Tuesday, 5 January 2016

PERKEMBANGAN BAHASA PADA KANAK-KANAK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM

PERKEMBANGAN BAHASA PADA KANAK-KANAK DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM Tugas ini dibuat untuk memenuhi nilai ujian akhir semester pada mata kuliah Islam dan Psikologi Oleh : SHAFIRA AZZAHRA (11140700000138) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun Ajaran 2015/2016 KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirahim Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, berkat ridho dan inayah-Nya lah penulis dapat menyelasikan tugas makalah ilmiah Islam dan Psikologi tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga senatiasa tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW karena seruan beliaulah kita bisa terlepas dari zaman kebodohan ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan ini. Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis, sehingga makalah ilmiah ini dapat terselesaikan: 1. Bapak Prof. Abdul Mujib .M.A, M.Si , selaku Dekan dan dosen mata kuliah Islam dan Psikologi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Orang tua, saudara, sahabat dan teman-teman tim penulis yang selalu memberikan dukungan moril maupun materil yang sangat berarti bagi penulis dalam menyusun karya tulis ilmiah ini Semoga pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini mendapatkan ridho dan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Aamiin. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada para pembaca. Semoga makalah ilmiah ini bisa memberikan banyak manfaat bagipenulis khususnya, dan juga para pembaca. Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis menerima kritik dan saran jika terdapat kesalahan atau kekelirun, demi kesempurnaan makalah ini. Jakarta, 4 Januari 2016 Penulis DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN 5 1. Latar Belakang 5 2. Tujuan Penulisan 5 BAB II PEMBAHASAN 2 2.1. Perkembangan Kanak-Kanak dalam Perspektif Psikologi Islam 6 2.2. Perkembangan Bahasa pada Kanak-Kanak 8 2.3. Perkembangan Bahasa pada Kanak-Kanak dalam Perspektif Islam 10 BAB III Penutup 13 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, seorang individu haruslah dapat bersosialisasi dengan individu yang lain, agar kebutuhan social dan tujuan hidupnya dapat dicapai dengan baik. Dalam bersosialisasi diperlukan kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang dapat dipahami oleh anggota masyarakat disekitar individu tersebut. Kemampuan berbahasa merupakan suatu kemampuan yang dapat membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki fungsi luhur yang dikendalikan oleh otaknya. Selain itu bahasa juga diperlukan dalam transfer ilmu pengetahuan. Karena untuk dapat mempelajari suatu ilmu, tentu manusia juga harus menyamakan persepsi yang dimilikinya dengan cara berbahasa. Untuk dapat menguasai bahasa, diperlukan pengenalan dan latihan sejak dini yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang yang lebih berilmu. Banyak sekali teori-teori yang memaparkan, bagaimana seorang manusia dapat mengenal dan menggunakan bahasa sebagai suatu alat dalam berkomunikasi. Menurut Chomsky, anak-anak dilahirkan sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk berbahasa melalui kontak dengan lingkungan social, dan kemampuan bahasa tersebut akan tampak dalam perilaku berbahasa. Perkembangan anak-anak adalah suatu fase yang amat penting di dalam kehidupan seorang manusia. Hal ini dikarenakan, pada masa kanak-kanak, otak berkembang dengan sangat pesat dan menuntut untuk segera dipenuhi dengan ilmu pengetahuan, selain itu pembentukan kepribadian yang paling krusial juga terjadi pada fase ini. Itulah mengapa, fase kanak-kanak kerap disebut dengan Golden Age atau masa keemasan. Di masa keemasan ini otak anak harus selalu di stimulasi dengan kegiatan yang berbau imu pengetahuan, termasuk bahasa. Di dalam perspektif Islam, disebutkan bahwa masa kanak-kanak (al-thifl) merupakan masa-masa dimana terdapat pertumbuhan potensi-potensi indera dan psikologis, seperti pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani. Pada tugas kali ini, penulis ingin memaparkan bagaimana proses perkembangan bahasa yang terjadi di masa kanak-kanak berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah di dalam makalah yang berjudul “ Perkembangan Bahasa pada Kanak-Kanak Berdasarkan Perspektif Psikologi Islam” 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah perkembangan manusia pada masa kanak-kanak dalam perspektif psikologi Islam? 2. Bagaimanakah perkembangan bahasa pada kanak-kanak berdasarkan perspektif psikologi Islam? 1.3. Tujuan 1. Mengetahui perkembangan manusia pada masa kanak-kanak dalam perspektif psikologi Islam 2. Mengetahui perkembangan bahasa pada kanak-kanak berdasarkan perspektif psikologi Islam BAB II PEMBAHASAN 2.1. Masa Kanak-Kanak dalam Perspektif Psikologi Islam Menurut Abdul Mujib (2003), fase kanak-kanak (al-thifl), adalah fase dimana kondisi seorang individu masih lemah, karena belum sempurnanya perkembangan, baik jasadiyah, fikriyah maupun ruhiyahnya. Fase ini dimulai sejak anak berusia sebulan sampai usia sekitar tujuh tahun. Pada fase kanak-kanak ini terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi, antara lain ; 1. Pertumbuhan potensi-potensi indera dan psikologis, seperti pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani. Seperti Firman Allah dalam Surah An-Nahl: 78 yang berbunyi : “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Ia memberikan pendengaran, pengelihatan, dan hati sanubari agar kamu mau bersyukur.”. Yang harus dilakukan oleh orang tua si anak adalah menstimulasi anak agar dapat mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki oleh anak tersebut, agar anak mampu berkembang secara maksimal. 2. Mempersiapkan diri anak dengan cara membiasakan hidup yang baik, seperti dalam berbicara, makan, bergaul, penyesuaian diri dengan lingkungan, dan berperilaku. Pembiasaan ini terutama dilakukan pada aspek-aspek afektif (al-infi’ali). Aspek afektif harus segera dibiasakan pada masa kanak-kanak agar kelak individu tersebut terbiasa untuk melakukan aspek tersebut. 3. Pengenalan aspek-aspek doktrinal agama terutama yang berkaitan dengan keimanan. Pada fase kanak-kanak, orang tua harus memperkenalkan konsep ketuhanan pada anak-anak. Anak-anak seringkali melontarkan pertanyaan-petanyaan yang kritis mengenai siapa yang menciptakannya dan dimanakah keberadaan Tuhan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengetahui dan belajat ilmu-ilmu agama yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta mempelajari teknik-teknik dalam psikologi anak untuk dapat meladeni pertanyaan kritis anak dengan baik. Dalam Abdul Mujib (2003), dijelaskan bahwa masa kanak-kanak dalam perspektif Islam masuk di dalamnya fase tamyiz, yaitu fase di mana anak mulai mampu membedakan yang baik dan yang buruk serta yang benar maupun yang salah. Fase ini dimulai sejak usia 7 tahun sampai 12 atau 13 tahun. Anak yang mencapai masa ini disebut dengan mummayiz. Tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan individu pada masa ini adalah ; 1. Perubahan persepsi konkrit menuju pada persepsi yang abstrak, misalnya dalam persepsi mengenai ide-ide ketuhanan. Menurut Abdul al-Mun’im, pada masa ath-thifl, ide-ide ketuhanan anak-anak bersifat konkrit, seperti figur sang ayah yang kuat diproyeksikan sebagai Tuhan. Ayah yang mampu melindungi si anak ketika ada bahaya disamakan dengan sosok Tuhan yang Maha Pelindung. Seringkali anak juga mempersepsikan konsep Tuhan sebagai sosok yang mempunyai wajah, tangan, dan badan yang besar seperti manusia. Namun, pada usia sekitar tujuh tahun, pemikiran anak telah mencapai tingkat pemikiran abstrak. Pada usia ini, sekalipun ia dihadapkan pada objek-objek yang konkrit, anak dapat menarik kesimpulan yang bersifat abstrak. 2. Pengembangan ajaran-ajaran normative agama melalui institusi sekolah, baik yang berkenaan dengan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam hal ini, Nabi Muhammad Salallahu alaihi Wassalam bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika ia berusia tujuh tahun, dan pukullah ia jika meninggalkannya apabila berusia sepuluh tahun, dan pisahkan ranjangnya” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim drai Abdullah bin Amr) Dalam hadits di atas, diisyaratkan bahwa, pada usia tujuh tahun, anak mulai dapat membedakan perbuatan yang benar maupun yang salah, sehingga merupakan hal yang tepat apabila anak mulai diperkenalkan ajaran-ajaran agama, baik yang berupa ibadah wajib maupun ibadah sunnah, seperti sholat dan berpuasa. Dan ketika anak menginjak usia 10 tahun, anak secara lebih sempurna mampu memahami dan menjalankan norma-norma agama. Anak juga telah mengerti konsekuensi apabila ia meninggalkan perintah agama yaitu mendapatkan hukuman. Di dalam hadits Rasulullah yang telah dipaparkan di atas, disebutkan bahwa apabila anak usia 10 tahun meninggalkan sholat maka pukullah. Pukulan ini adalah sebuah konsekuensi akibat pelanggaran kewajiban oleh si anak. Menurut Abdul Mujib, makna “memukul” di sini tidak selalu bersifat biologis, seperti memukul kepala atau anggota tubuh lainnya, melainkan bersifat psikologis, seperti menggugah kesadaran atau menjatukan harga dirinya. 2.2. Perkembangan Bahasa pada Kanak-Kanak Menurut Chomsky, anak-anak dilahirkan sudah dilengkapi dengan kemampuan berbahasa melalui kontak dengan lingkungan social. Kemampuan bahasa tersebut akan tampak dalam perilaku berbahasa. Chomsky percaya bahwa setiap anak mempunyai Language Acquisition Device (LAD), yaitu alat kemahiran bahasa yang mengkodekan prinsip utama bahasa dan stuktur gramatikalnya ke dalam otak anak. Karena anak memiliki LAD di dalam otaknya, maka anak dapat menemukan dan memahami kalimat-kalimat yang tidak pernah didengar sebelumnya. Selain itu anak dapat membuat kalimat sesuai dengan aturan gramatikanya untuk menyatakan makna yang mereka maksudkan. Perkembangan bahasa menurut Chomsky meliputi tahap : 1. Early Language (bahasa awal) Sejak lahir bayi membuat gerakan-gerakan tubuh yang sangan halus sebagai respon kepada ucapan dan gerakan mereka. Kira-kira pada usia 1 bulan, bayi mulai mendeguk dan menjekut dan pada usia 6 bulan, bayi sudah mulai meraba, membuat suara dari getaran bibir dan lidah (Sachs, 1976) 2. One Word Utterances (Pengucapan satu kata) Pada usia satu tahun bayi mulai memproduksi kata tunggal untuk mengekspresikan seluruh kalimat. Contohnya, bayi mengucapkan “kue” yang artinya si bayi menginginkan kue yang berada di dekatnya. 3. Two Word Utterances (Pengucapan 2 kata) Pada usia satu setengah tahun, anak-anak mulai menggunakan 2 kata bersama-sama dan bahasa mereka menunjukkan struktur tertentu. 4. Developing Grammar (Perkembangan Gramatika) Antara usia 2-3 tahun, umumnya anak sudah dapat menggunakan 3 kata atau lebih secara bersamaan. Anak juga sudah dapat membuat kalimat mengikuti aturan Subjek-Predikat-Objek (S-P-O). selain itu anak sudah dapat membedakan waktu lampau (past), saat ini (present), dan yang akan dating (future) dalam membuat sebuah kalimat. 5. Transformation (Perubahan-perubahan) Pada usia 3-6 tahun, gramatika anak berubah dengan cepat dan cukup kompleks. Belugi-Klima (1968) mempelajari bagaimana anak membentuk kata Tanya dari perubahan struktur dalam kalimat itu sendiri. 6. Near Adult Grammar Anak sudah menguasai banyak aspek gramatika pada usia 5-6/7 tahun. Namun mereka masih belum mampu melakukan pengubahan kalimat yang kompleks. 2.3. Perkembangan Bahasa pada Kanak-Kanak dalam Perspektif Islam Manusia adalah mahluk paling sempurna yang Allah telah ciptakan. Perbedaan manusia dengan mahluk lain yang Allah ciptakan adalah kemampuannya dalam berpikir dan mengendalikan perilakunya. Kemampuan dalam berbahasa merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh binatang dan tumbuhan. Manusia memiliki kemampuan untuk menyusun tata bahasa yang kompleks dan rumit. Dalam Purwakania (2006), Allah dalam Al-Qur’an menggambarkan bahwa kemampuan manusia untuk berbahasa merupakan kemampuan yang membuat manusia memiliki kelebihan dibandingkan dengan malaikat, Allah berfirman, “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar!” (QS Al-Baqarah : 31) Maka berdasarkan ayat di atas terlihat bahwa Allah Azza wa Jalla telah mengajarkan kepada nenek moyang kita, Adam alaihissalaam, cara berbahasa ketika Adam selesai diciptakan. Ini berarti, manusia telah di setting sedemikian rupa untuk dapat berbahasa. Bayi yang baru lahir pun sudah mampu berbahasa, namun dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan berbahasa isyarat. Namun beberapa bayi mendapat keistimewaan dari Allah untuk dapat berbicara dengan bahasa yang cukup kompleks, salah satunya Nabi Isa alaihissalaam, yang telah mulai berbicara sejak masih dalam buaian, yang dinyatakan pada surah Maryam : 29-33 “ Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan. Dan Isa berkata : “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku kitab Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang Nabi, dan Dia menjadikanku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” ( QS Maryam : 29-33 ) Keistimewaan yang dipaparkan dalam surah di atas memang hanyalah dialami oleh segelintir manusia saja yang mendapat mukjizat dari Allah. Dan sejatinya bayi pun memiliki potensi untuk dapat berbahasa yang harus terus di asah oleh orang tuanya. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk mengenal kalimat tauhid dan shalawat saat ia lahir sampai dengan umur 1 tahun. Terus senandungkan tahlil dan puji-pujian bagi Allah di telinga anak, sehingga otak anak yang sedang mengalami pertumbuhan yang pesat dapat merekam kalimat tersebut dan dapat menjadikannya sebagai pondasi keimanan yang kuat bagi anak, seperti yang termaktub dalam surah Az-Zukhruf : 28 “Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali pada kalimat tauhid itu” (QS Az-Zukhruf : 28 ) Ketika usia anak beranjak pada usia 1 tahun, orang tua dapat mengajarkan anak untuk melafalkan kata-kata yang dapat menanamkan iman di hati anak, seperti basmallah, takbir, tahmid, dan tahlil. Apabila anak tersebut adalah anak yang tidak mengalami gangguan fisik maupun psikis, ia akan sangat mudah mengikuti apa yang di ajarkan oleh orang tuanya. Karena di usia 1 tahun, anak sudah dapat mengucapkan sepatah dua patah kata. Dan Allah pun telah menciptakan manusia sedemikian rupa untuk dapat berbicara. “Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara “ (QS Ar-Rahman : 3-4) Apabila anak telah mencapai usia 2 atau 3 tahun, hendaknya orang tua mulai mengajarkan anak untuk membaca Al-Qur’an. Karena di usia 2 atau 3 tahun, anak telah mampu mengucapkan kalimat dengan benar. Orang tua dapat terlebih dahulu mengajarkan anak mengenal huruf hijaiyah dan membaca iqro’ dengan metode yang mengasyikkan dan dengan permainan. Karena sesungguhnya Allah pun telah memerintahkan untuk perlahan dalam mempelajari Al-Qur’an, disebabkan karena beratnya bacaan dan isi yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman : “…dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS Al-Muzzammil: 4-5) Di saat anak berusia 3-6 tahun, perlulah mengajarkan anak mengenai isi dan kandungan dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Karena di usia tersebut, anak sudah hampir memasuki periode tamyiz, sehingga anak perlu diberikan pemahaman mengenai kewajiban serta larangan yang diperintahkan oleh Allah. Yang mana, semua perintah dan larangan tersebut ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits. “…Tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah dating kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu. (QS Al-An’am:34) Dan, orang tua juga sebaiknya menuntun anak untuk mulai menghapal Al-Qur’an dan membacanya dengan tartil. Anak juga perlu untuk dibimbing atau tallaqi bacaan Qur’annya oleh orang tua maupun lembaga-lembaga tahsin tilawah. Ketika anak berumur 10 tahun dan telah mummayiz, maka perlu diajarkan bacaan-bacaan sholat. “ Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa-apa yang tidak kamu ketahui.” Anak, selain diperkenalkan dengan bahasa ibu, juga dapat diperkenalkan bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa Internasional. Sebabnya lagi-lagi karena Allah telah mendesign manusia sedemikian rupa sehingga dapat mempelajari lebih dari satu bahasa. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang tang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti (QS Al Hujurat : 13) BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Perkembangan anak adalah masa-masa yang paling krusial dalam rentang kehidupan seorang manusia. Karena di masa kanak-kanak terjadi perkembangan otak yang sangat pesat yang sering disebut dengan golden age. Menurut Abdul Mujib, masa kanak-kanak (ath-thifl) merupakan masa di mana perkembangan anak baik jasadiyah, fikriyah maupun ruhiyah masih lemah, sehingga orang tua memegang peranan penting dalam menuntun anak untuk mencapai perkembangan yang optimal. Salah satu perkembangan yang di alami oleh anak adalah perkembangan bahasa. Menurut Chomsky, anak-anak dilahirkan sudah dilengkapi dengan kemampuan berbahasa melalui kontak dengan lingkungan social. Hal ini sesuai dengan perkembangan bahasa menurut perspektif Islam yang mengatakan bahwa Allah telah mengajarkan kepada Adam nama benda-benda (QS Al-Baqarah : 31), dan Allah juga telah menciptakan manusia sudah dengan kemampuan membaca (QS Ar-Rahman : 3-4). Sehingga orang tua sebagai yang diberi amanah oleh Allah, hanya tinggal mengoptimalkan saja potensi anak sesuai dengan perkembangannya. DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’anul Kariim Abdul Mujib. 2003. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Purwakania, Aliah. 2006. Psikologi Perkembangan Islami. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada